imagebam.com

CERPEN CERITA DI PASAR



CERITA DI PASAR

Hari ini terasa sangat menyebalkan setelah seharian di kampus berkutat dengan mata pelajaran aku pulang, sampai kerumah aku langsung istirahat di sofa badan rasanya capek semua. Sambil melihat tv. Tiba-tiba ibu datang.
 “Ayo antar ibu kepasar” kata ibu.
“aku tidak mau bu” sahutku.  ketika itu aku sangat malas karena baru istirahat sebentar sudah diajak pergi dan aku memang malas sekali kalau harus di ajak ke pasar.
“dapurmu ini kosong kamu nanti malam mau makan apa? Kata ibuku dengan suara yang keras seperti marah.
“kenapa ibu ngak belanja di indomaret depan rumah saja? kan lebih dekat” sahutku sambil tersenyum supaya ibu tidak marah.
“kalau belanja di indomaret tidak lengkap” kata ibu.Memang ibu lebih suka belanja di pasar ketimbang di indomaret depan rumah karena memang di indomaret barangnya sedikit dan kurang memuaskan.
“iya deh kalau gitu” kataku” aku dan ibu segera bersiap-siap untuk pergi ke pasar dengan naik motor. Ketika aku dan ibu sudah bersiap-siap mau berangkat di depan rumah suara adzan berkumandang.
“ayo sholat dulu” kata ibuku.
“sholatnya nanti saja bu habis dari pasar” kataku, aku malas karena sudah siap-siap berangkat ke pasar lalu ibu mengajak sholat dan kembali lagi masuk rumah.
“ayoo” kata ibuku dengan suara yang agak keras.
Lalu Dengan agak malas aku mengikuti ibu dan kita pun sholat berjamaah dirumah.Setelah sholat kita berangkat ke pasar. Dan tak lama kemudian akhirnya Sampai di pasar.
“Aku tunggu di sini saja bu” kataku. Ketika itu siang hari dan suasananya sangat panas jadi aku tidak mau ikut ibu belanja. Aku juga tidak suka suasana pasar dengan situasi keramaian yang penuh sesak dengan suara tawar menawar barang, bahkan tidak jauh dari suasana becek dan kotor. Jika saja dapur tidak kosong aku tidak akan mau pergi ke pasar.
“Iya” kata ibuku singkat
 Aku pun duduk di sebelah parkiran yang meemang tempat duduknya dingin karena berada di bawah pohon. Sambil meminum es. Di sebelah tempat aku duduk, aku melihat nenek tua dengan membawa keranjang besar yang berisikan roti, dilihat bawaanya mungkin nenek itu sedang berjualan. Selain nenek itu ada beberapa orang yang duduk di sini. Satu orang yaitu seorang TNI saya anggap TNI karena sedang menggunakan seragam TNI. Dan beberapa anak seusiaku yang mungkin juga sama denganku sedang mengantar ibunya belanja. Cukup lama aku menunggu hampir satu jam ibu belum datang, aku hanya duduk disini sambil melihat banyaknyaorang di pasar berjalan untuk belanja.Supaya tidak diam saja dan bosan Aku pun memulai percakapan dengan nenek disampingku tadi.
“Maaf, apa nenek sedang berjualan roti”? Kataku
“iya nak, nenek sedang berjualan roti”. Kata nenek itu
Lalu aku bertanya lagi “apa nenek setiap hari berjualan roti di pasar?”
“iya nak setiap hari nenek berjualan roti seperti ini, biasanya jam segini sudah pulang tetapi sekarang rotinya masih banyak jadi nenek belum pulang” kata nenek sambil tersenyum
“wah nenek hebat sekali masih kuat untuk jualan” sahut TNI tadi
“iya nak kalau ngak gini nenek mau makan apa” kata nenek
Aku pun bertanya “maaf nek memang anaknya kemana?”
“anakku sudah lama tidak pulang ngak tahu pergi kemana” kata nenek sambil merenung
Nenek itu sudah sangat tua, jalannya saja sudah agak bungkuk ditambah lagi harus membawa barang jualan. Aku dan orang-orang yang duduk disinihanya terdiam dan aku merasa kasihan terhadap nenek tersebut. Lalu aku pun ingin membeli rotinya padahal saat itu aku sedang kenyang dan tidak suka makan roti. Namun karena aku merasa kasihan lalu aku ingin membeli rotinya.
“nek berapa harga rotinya?” kataku
“5000 an perbiji nak nak”jawab nenek dengan singkat
aku pun membeli beberapa roti tersebut, tiba-tiba suasana disekitar tempat duduk menjadi ramai karena orang-orang disampingku ikut membeli roti tersebut.
“alhamdulillah banyak yang beli” kata nenek dengan gembira
Aku pun merasa senang banyak yang membeli roti nenek tersebut dan rotinya pun hampir habis.aku membayangkan ibuku seperti itu, aku sekarang merasa menyesal tidak pernah membantu ibu kalau tidak disuruh, seperti kalau mau pergi ke pasar aku pasti menolaknya dulu sebelum ibu memaksa.sebenarnya hadirnya ibu dirumah sejak beberapa minggu ini memang memberi suasana yang berbeda. Suasana rumah yang dari aku kecil dulu sering ditinggal ibu kerja. sekarang ibu sudah tidak bekerja lagi dan tinggal bersamaku dirumah.
Aku menunggu lama tapi ibu tidak datang-datang aku mencoba berfikir positif siapa tau bentar lagi ibu datang. Tetapi sudah lama aku menunggu ibu tidak datang-datang, pasar sudah mulai sepi aku mencoba bertannya satu persatu kepada orang disekitar pasar. Mulai dari penjaga toko, penjual makanan sampai tukang ojek. Tetapi hasilnya nihil, tidak ada orang yang melihat ibuku. Penampilan ibu sangat mencolok aku takut terjadi apa-apa.waktu ibu pergi tadi tangan dan lehernya dipenuhi perhiasan. Aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa ibu. Aku mulai lelah, keringat sudah memenuhi tubuhku bajuku sampai basah lalu aku mencari kesana kemari mengelilingi pasar tapi masih belum bertemu ibu. Bodohnya tadi aku tidak mengingatkan ibu untuk tidak memakai perhiasan dipasar. Aku terus mencari sambil membayangkan kemungkinan terjadinya kejahatan terhadap ibuku.

“ibu dimana ? ibu...” teriaku keras

1 komentar: